PENDAHULUANSistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) adalah kegiatan sistemik penjaminan mutu pendidikan oleh perguruan tinggi untuk mengawasi penyelenggaraan pendidikan tinggi oleh perguruan tinggi itu sendiri secara berkelanjutan. Makna mengawasi berarti ‘perencanaan’, ‘pelaksanaan’, ‘pengendalian’, dan ‘pengembangan/ peningkatan’ standar mutu perguruan tinggi secara konsisten dan berkelanjutan untuk kepuasan stakeholders (KJM UGM, 2013). Sampai saat ini pentingnya penjaminan mutu internal pada perguruan tinggi masih menjadi pertentangan antara lain karena dianggap membebani dengan persiapan data-data. Selain itu adanya anggapan bahwa audit mutu eksternal lebih penting karena audit mutu eksternal bisa dilihat hasilnya dari kategori nilai akreditasi, sedangkan audit mutu internal tidak ada nilai hasilnya. ISIPenjaminan Mutu Internal bagi suatu perguruan tinggi akan menjadi penting ketika perguruan tinggi berupaya untuk menerapkannya sebagai suatu sistem. Seperti dikemukakan dalam buku Sistem Penjaminan Mutu Internal UGM sejarah, implementasi dan pengembangan bahwa SPMI dilakukan untuk mencapai (i) kepatuhan terhadap kebijakan akademik, standar akademik, peraturan akademik, dan manual mutu akademik, (ii) kepastian bahwa lulusan memiliki kompetensi sesuai dengan yang ditetapkan di setiap program studi, (iii) kepastian bahwa setiap mahasiswa memiliki pengalaman belajar sesuai dengan spesifikasi program studi, dan (iv) relevansi program pendidikan dan penelitian dengan tuntutan masyarakat dan stakeholders lainnyaStrategi yang dapat dilakukan oleh suatu perguruan tinggi untuk menerapkan SPMI adalah ”menumbuhkan budaya mutu” artinya bahwa penjaminan mutu internal bukan hanya menjadi tanggungjawab dari ketua program studi (prodi) atau sekretaris prodi atau unit jaminan mutu. Menumbuhkan budaya mutu tidak mudah dilaksanakan, hal ini berkaitan dengan komitmen dari semua aspek sivitas akademika dengan didukung oleh segala dokumen yang harus disiapkan sehingga kadang menjadi hal yang ”ribet”. Sistem Penjaminan Mutu Internal dapat diterapkan apabila ada komitmen dari pimpinan perguruan tinggi. Komitmen tersebut dapat dituangkan dalam Dokumen Akademik perguruan tinggi serta pengesahan Dokumen Akademik harus dilakukan oleh Senat Akademik sehingga isinya menjadi tanggung jawab bersama dan seluruh sivitas akademika wajib melaksanakan aturan dalam Dokumen Akademik tersebut.Dari aturan tersebut diharapkan akan terbentuk sistem untuk menumbuhkan budaya mutu sehingga seluruh komponen sivitas akademika akan dengan kesadaran berupaya untuk menyelenggarakan kegiatan akademik sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Ketika setiap sivitas akademika telah menereapkan budaya mutu maka penjaminan mutu internal bukan lagi sebagai hal yang memberatkan. Strategi untuk pengembangan budaya mutu ini dapat dimulai dengan penyelenggaraan sistem integrasi online mencakup keseluruhan kegiatan tridharma antara lain:- Ketika akhir semester setiap dosen mengunggah nilai akhir semester maksimal 2 minggu dari ujian akhir semester lalu sistem online secara otomatis dapat menganalisis statistik hasil ujian akhir.- Setiap dosen ditumbuhkan kesadaran untuk mengisi setiap kegiatan tridharma yang telah dilakukan ke dalam sistem online- Setiap mahasiswa mengisi umpan balik kegiatan akademik dengan cara memberi masukan evaluasi melalui sistem onlineStakeholder disosialisasikan penggunaan sistem online untuk memberi masukan tentang penyelenggaraan kegiatan akademik maupun memberikan masukan mengenai kebutuhan kompetensi atau skill yang harus dihasilkan oleh lulusan prodi.Keseluruhan sistem integrasi tersebut mencakup semua data mulai dari mahasiswa masuk sampai dengan mahasiswa lulus. Dari sistem integrasi online tersebut dapat diperoleh seluruh kegiatan tridharma sehingga ketika ada audit bukan lagi menjadi hal yang membebani karena keseluruhan data penyelenggaraan tridharma dapat dievaluasi kapan saja.  Sistem penjaminan mutu internal menjadi awal untuk melihat kualitas penyelenggaraan akademik yang dapat dikelola oleh unit penjaminan mutu di setiap prodi. Terbentuknya budaya mutu pada setiap prodi akan menghasilkan proses quality improvement sebagai tindakan perbaikan mutu akademik yang dilakukan secara terus menerus oleh setiap prodi. Strategi penyusunan evaluasi diri sebagai gambaran sesungguhnya pada setiap prodi akan dapat digunakan sebagai cerminan untuk perbaikan melalui rencana tindak lanjut yang dapat dirumuskan bersama dalam Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) oleh seluruh Ketua Prodi, pimpinan perguruan tinggi, unit jaminan mutu dengan melibatkan senat akademik.   PENUTUPPenerapan penjaminan mutu internal dapat dilakukan melalui strategi mewujudkan budaya mutu. Keberhasilan penerapan penjaminan mutu internal membutuhkan komitmen pimpinan perguruan tinggi dan tanggungjawab dari seluruh aspek sivitas akademika.