Pendahuluan. Mutu saat ini merupakan fokus utama dalam peningkatan kualitas perguruan tinggi di Indonesia. Untuk menghadapi era globalisasi dalam persoalan mutu atau kualitas maka para pimpinan perguruan tinggi beserta elemen –elemennya sudah semestinya berpikir secara simultan dan strategik dalam mengimplementasikan budaya mutu di lingkungan pendidikan tinggi. Penjaminan mutu telah diperkuat dengan adanya UU No.12 tahun 2012 mengenai pendidikan tinggi, Peraturan Menristekdikti No.62 tahun 2016 tentang Sistem penjaminan  Pendidikan tinggi dan Peraturan Menristekdikti no 44 tahun 2015. Dengan adanya UU serta peraturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah sudah seharusnya setiap pengelola pendidikan tinggi bersungguh-sungguh melaksanakan amanah khususnya tentang sistem penjaminan mutu secara terencana, berkesinambungan dan berkelanjutan.           
 Isi. Istilah sistem penjaminan mutu perguruan tinggi (SPMI) di pendidikan tinggi khususnya di STIKES Bina Usada sudah sangat familiar hanya saja dari pelaksanaan masih belum optimal. SPMI dipegang oleh unit penjaminan mutu (UPM) berdasarkan SK yang dikeluarkan oleh ketua STIKES. Program kerja utama dari UPM adalah melakukan revisi standar sesuai SN Dikti yaitu minimal 24 standar. Setelah adanya perumusan standar sesuai dengan SN Dikti, dilakukanlah sosialisasi kepada seluruh dosen dan staf di lingkungan pendidikan tinggi. Sosialisasi berupa pertemuan atau biasa kami sebut dengan forum mutu. Dalam forum mutu ini UPM dan pimpinan perguruan tinggi memaparkan hasil standar yang telah disusun yang meliputi tri dharma perguruan tinggi. Setelah melakukan sosialisasi standar mutu, kendala yang dihadapi oleh UPM adalah adanya beberapa standar mutu yang belum dapat dijadikan indikator kerja, sehingga perlu dilakukan revisi kembali. Dalam pelaksanaan beberapa standar  belum terlihat optimal karena masih minimnya pemahaman mengenai standar pada masing-masing unit kerja, sehingga langkah yang dilakukan oleh pimpinan perguruan tinggi adalah dengan mengirim secara periodik masing-masing kepala unit untuk mengikuti pelatihan/sosialisasi mutu perguruan tinggi. Permasalahan inti dari pelaksanan mutu adalah segi teknis, belum disusunnya secara lengkap SOP dan belum adanya kegiatan audit mutu internal karena belum ada yang pernah mengikuti pelatihan auditor, sehingga langkah berikut yang dilakukan oleh UPM berkoordinasi dengan pimpinan perguruan tinggi untuk melaksanakan pelatihan/workshop audit mutu internal perguruan tinggi. Dalam pengembangan dan pelaksanaan standar penelitian masih terlihat rendahnya keinginan/animo dosen dalam  melakukan penelitian, padahal penelitian adalah bagian utama dari tri dharma PT. Upaya yang dilakukan oleh ketua LP2M sebagai kepala pemegang unit adalah menyusun pohon penelitian pada masing-masing prodi untuk memudahkan dosen menyusun tema penelitian, selain itu LP2M menganggarkan sejumlah dana penelitian yang telah disetujui oleh pimpinan perguruan tinggi bagi dosen, pelatihan dalam penyusunan hibah penelitian pun rutin diselenggarakan, harapannya dosen dapat terstimulasi dalam mengajukan penelitian. Tiap tahun diadakan pemilihan dosen berprestasi dan diberikan reward oleh STIKES, bagi dosen yang memiliki track record yang baik dalam pelaksanaan tri dharma dapat terpilih menjadi dosen berprestasi. Penjaminan mutu yang baru dijalankan pada STIKES kami masih dalam proses pelaksanaan, untuk kedepannya dalam tahap evaluasi akan dilaksanakan audit mutu internal untuk pelaksaanan standar yang telah ditetapkan.
           
Penutup. Pencapaian tujuan penjaminan mutu melalui SPMI pada akhirnya akan dikontrol dan di audit melalui sistem penjaminan mutu eksternal yang disebut akreditasi, sehingga SPMI dan SPME akan berjalan secara sinergi dan mutu perguruan tinggi dapat tetap terjaga dan ditingkatkan.